Beranda » Artikel TERKAIT » Doni Setiabudi “Kang Jalu”, Sosok Fenomenal dibalik Suksesnya Bandung Premier League (BPL)

Doni Setiabudi “Kang Jalu”, Sosok Fenomenal dibalik Suksesnya Bandung Premier League (BPL)

Diposting pada 28 April 2020 oleh Yulyanto | Dilihat: 25 kali | Kategori: ,
Doni Setiabudi “Kang Jalu”, CEO Bandung Premier League (Sumber: Dokumentasi SOCCERPEDIA.id)



BANDUNG – Buat kalian penggemar Sepak Bola liga amatir di Kota Bandung, rasanya belum keren jika belum pernah ikut mencicipi serunya bermain dalam gelaran laga Bandung Premier League (BPL).

Hampir rata-rata klub Sepak Bola amatir di Kota Bandung, ingin sekali tampil dan bisa main di BPL ini. Selain dikelola layaknya liga profesional, liga ini juga merupakan salah satu liga amatir rujukan yang paling popular tidak hanya di Kota Bandung, bahkan hampir diseluruh Indonesia.
Doni Setiabudi sang CEO BPL, merupakan sosok fenomenal sang arsitek BPL yang belakangan ini makin banyak diperbincangkan dan tentunya makin popular sejak ia memperkenalkan inovasi Video Assistant Referee (VAR) dalam gelaran BPL.Popularitas pria asli Bandung ini makin naik tatkala dirinya berani mencalonkan diri dan maju sebagai salah satu kandidat Calon Wakil Ketua Umum, duet bersama Arif Putra Wicaksono (CEO Nine Sport Inc.) yang juga maju sebagai kandidat Calon Ketua Umum Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) periode 2019-2024 lalu.

Dalam sebuah kesempatan, SOCCERPEDIA.id berkesempatan untuk mampir dan melakukan diskusi serta interview langsung dengan pribadi bersahabat yang juga akrab disapa “Kang Jalu” ini. Kita tahu, berkat ide, kreativitas serta tangan dinginnya, BPL kini terkenal hampir keseluruh pelosok negeri di Indonesia.Semangat Awal Bandung Premier League (BPL) 

Suasana saat jalannya pertandingan Bandung Premier League (Sumber: Official Instagram Bandung Premier League @bandungpremierleague)



Bercerita tentang semangat awal dan tujuan BPL, Kang Jalu menyampaikan bahwa, “Kami tidak pernah mensyaratkan macam-macam untuk setiap tim yang akan ikut ambil bagian dalam gelaran BPL ini, karena kita meyakini seleksi alam akan berlaku bagi tim-tim yang kurang serius, jadi pada akhirnya hanya klub-klub yang dikelola dengan baik dan benar saja yang bisa tetap hidup dan bertahan dalam BPL ini”, ujarnya.

“Kami berharap liga 1 BPL bisa menjadi barometer tim amatir di Bandung yang bisa mengarah ke semi professional, baik dari sisi pemain, pelatih, manajemen, sponsor dan organ-organ terkait lainnya didalam klub. Seringkali sebelum musim dimulai banyak tim yang bahkan melakukan launching jersey, pemain, pelatih dan kru layaknya liga profesional di Eropa”, sambung Kang Jalu.
Menanggapi pertanyaan apakah BPL memperbolehkan pemain ex-professional ikut dalam kompetisi, Kang Jalu menjelaskan, “BPL Season 1 kita tentukan diperbolehkan maksimal 3 pemain ex-pro (setelah 5 tahun) bisa join untuk setiap klub, kemudian pada season 2 kita ubah menjadi hanya maksimal 1 pemain ex-pro. Baru pada season 3 kami putuskan untuk melarang 100% pemain ex-pro dalam kompetisi di BPL”.
“Kami menyadari bahwa, semangat awal membangun BPL adalah karena ingin mewadahi pada pemain amatir yang kurang atau bahkan tidak memiliki panggung untuk bermain. Justru dengan memperbolehkan beberapa pemain ex-pro join dalam BPL seringkali menjadi pemicu keributan yang terjadi di lapangan. Untuk alasan itu maka mulai season ke-3 dan selanjutkan, BPL melarang pemain ex-pro untuk merumput”, ucapnya.Inovasi Video Assistant Referee (VAR) dalam gelaran BPL 

Ide Video Assistant Referee (VAR) di Bandung Premier League (Sumber: Official Instagram Bandung Premier League @bandungpremierleague)

Menanggapi asal-muasal mengapa BPL menjalankan konsep VAR, Kang Jalu menjelaskan, “Musim pertama BPL, tepatnya pada pekan ke-3 dan ke-4, banyak sekali terjadi keributan, mulai dari antar pemain, wasit dengan pemain, dan sebagainya. Berangkat dari sini saya dihadapkan 2 pilihan, yaitu meninggalkan BPL atau tetap melanjutkan BPL, namun dengan melakukan inovasi yang tujuan utamanya adalah untuk mengatasi permasalahan-permasalahan yang terjadi di BPL tersebut”.

“Demam World Cup 2018 di Rusia yang saat itu memberlakukan konsep VAR, membuat saya berpikir untuk merealisasikan hal yang sama namun dalam versi amatiran, yaitu berawal dengan menggunakan Go-Pro. Sayangnya, kelemahan Go-Pro adalah akses internet yang sering terputus-putus, akhirnya kita putuskan untuk menggunakan CCTV dan menggunakan kabel LAN agar hasilnya bisa lebih stabil. Setelah di ujicobakan dalam partai-partai genting, konsep VAR ini nyatanya cukup efektif dan mampu menekan tingkat keributan yang selama ini menjadi kendala utama dalam laga BPL, dari sanalah akhirnya VAR ala BPL ini kita lanjutkan, bahkan hingga saat ini masih terus berlangsung”, tambah Kang Jalu.

Sejak saat itu, dimulai dengan mampirnya Menteri Pemuda dan Olah Raga (Menpora), Imam Nachrowi, dan di liput oleh beberapa media serta TV lokal dan nasional, VAR ala BPL mulai dikenal dan langsung melejitkan nama BPL sebagai salah satu operator liga amatir yang cukup diperhitungkan kiprahnya di Indonesia. Bahkan secara serentak diwaktu yang bersamaan BPL kemudian membuka sistem kompetisi dengan konsep franchise di 21 kota di seluruh Indonesia.

Melirik Grassroot Level

BPL mulai melirik grassroot level  (Sumber: Official Instagram Bandung Premier League @bandungpremierleague)

Sementara itu mulai masuknya BPL menjadi operator dalam Liga Anak Bandung (B’ League) juga menjadi salah satu sorotan tim SOCCERPEDIA.id. Kang Jalu menceritakan kiprahnya mengapa mulai masuk sebagai operator kompetisi level grassroot di Bandung. “Teman-teman operator kompetisi terbiasa memilih yang simple dan langsung selesai, akibatnya kompetisi yang bersifat festival cukup diminati ketimbang model liga seperti yang dilakukan oleh Topskor dan Kompas di Jakarta. Buat kami selaku operator melihat bahwa liga itu biayanya memang cukup mahal dan masih banyak resiko-resiko tak terduga yang akan dihadapi hingga selesai, karenanya sedikit sekali operator yang mau membuat kompetisi dengan konsep liga berjenjang”, ujarnya.

Kang Jalu kemudian melanjutkan, “Saat ini di Bandung hanya ada satu liga yang baru masuk yaitu Liga Topskor dan terbatas hanya untuk kategori usia 13 tahun saja. Jadi potensinya masih ada, kami merasa perlu masuk dan memfasilitasi anak-anak lain di Bandung yang juga memiliki potensi. Gagasan membuat Liga Anak Bandung (B’ League) akhirnya kami realisasikan pada 8 Desember 2019 lalu. B’ League sendiri saat ini telah berjalan dan diikuti oleh 9 tim untuk Kelompok Usia (KU) 10 tahun, dan 9 tim lainnya untuk KU 12. Untuk meringankan kemampuan financial tim, kami breakdown biaya pertandingannya menjadi per kompetisi”.

Rencananya, dalam waktu dekat, BPL juga akan membuat kompetisi grassroot level dengan konsep liga dibeberapa kota sekaligus, diantaranya adalah Jakarta dan Bali. Bahkan untuk jangka panjangnya, Liga anak ini juga akan diadakan di 21 kota pemegang hak kompetisi BPL, yang pada akhirnya nanti akan dibuat kompetisi Liga Anak Indonesia, dimana para pesertanya adalah para pemenang di masing-masing kota penyelenggara tersebut.

Menanggapi soal potensi talent scout dari gelaran liga anak saat ini, Kang Jalu belum melihat urgensinya, tapi nanti ketika B’ League sudah mulai mendapatkan tempat dimasyarakat seperti layaknya BPL, talent scout bisa menjadi salah satu agenda BPL. Rencanananya, setelah selesai musim B’ League Februari 2020 mendatang, BPL akan melanjutkan kompetisi anak dengan sistem COPA.

Kekinian BPL, Karena Inovasi Tiada Henti

Ilustrasi Inovasi VAR di Bandung Premier League (Sumber: Official Instagram Bandung Premier League @bandungpremierleague)

BPL selalu identik dengan kreativitas dan inovasinya, dibawah komando Kang Jalu, BPL sebagai operator juga telah dan akan menghasilkan beberapa konsep kompetisi dan liga kekinian. Sebagai contoh, saat Liga Kemenpora beberapa waktu yang lalu, mereka juga telah mengadakan ujicoba kompetisi Liga E-Sport yang cukup antusias diminati oleh para peserta kompetisi.

Tidak berhenti sampai disana, dalam waktu dekat BPL juga akan meluncurkan konsep Liga Tebak Skor (Menang-Kalah) bagi para penonton dan follower setia BPL. Mereka akan diberi kesempatan untuk menebak skor dari setiap kompetisi mingguan BPL Liga 1 dan 2, kemudian 20 orang dengan skor tertinggi akan naik klasemen layaknya aturan liga dalam Sepak Bola. Sang juara nantinya akan mendapatkan hadiah berupa Sepeda Motor. Tujuannya adalah agar pihak-pihak di luar Bandung juga bisa terlibat aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan BPL.

Menyambut Indonesia sebagai tuan rumah World Cup U20 tahun 2021 mendatang, BPL juga telah menyiapkan konsep sejenis yang sangat inovatif dan bahkan tidak kalah seru dengan World Cup itu sendiri. Sekitar bulan Juni-Juli 2020 mendatang, BPL akan membuat kompetisi anak-anak dari beberapa negara dengan konsep World Cup. Rencananya, BPL akan bekerjasama dengan beberapa kementerian dan pemerintah pusat untuk mewujudkan berlangsungnya kompetisi ini.

Terkait dengan pembenahan database pemain yang saat ini masih belum dikelola dengan baik oleh BPL, rencananya BPL akan membuat membership card BPL yang nantinya berfungsi sebagai database pemain sekaligus kartu identitas bagi mereka yang ingin ikut bermain di BPL. Hingga saat ini sudah ada sekitar 2.000 orang yang akan menjadi calon member BPL.Dalam waktu dekat, BPL season 4 juga akan digelar, tepatnya bulan Maret 2020. “BPL 4 kembali akan dimulai pada bulan Maret 2020 mendatang, Liga 1 sebanyak 20 tim, Liga 2 sebanyak 20 tim, jadi kurang lebih akan selesai dalam waktu 19 pekan atau kurang lebih sekitar 6 bulan karena terpotong sesi puasa dan lebaran”, ujar Kang Jalu.

BPL season 4 saat ini, bahkan diantaranya ada 2 klub yang berasal dari luar Kota Bandung, tidak tanggung-tanggung mereka berasal dari Papua. Sebenarnya kami cukup bangga karena ada peserta yang berasal dari luar Kota Bandung yang jauh-jauh datang hanya untuk ikut BPL, bahkan mereka berencana tinggal di Bandung selama 1 musim kompetisi. Artinya BPL cukup memiliki kekuatan sebagai kompetisi liga amatir. Sangat ironis disisi lain, karena ini juga sekaligus merefleksikan bahwa aktivitas liga di daerah mereka tidak berjalan atau memang sama sekali tidak ada!” tutup Kang Jalu, mengakhiri sesi interview dengan SOCCERPEDIA.id. So, maju terus BPL dengan segala inovasi dan kreativitasnya! (Author: Yul)


SOCCERPEDIA.id – all things about soccer
(kanal berita kekinian dengan sudut pandang jaman now)
Bagikan

Doni Setiabudi “Kang Jalu”, Sosok Fenomenal dibalik Suksesnya Bandung Premier League (BPL) | SOCCERPEDIA.store

Komentar (0)

Silahkan tulis komentar Anda

Alamat email Anda tidak akan kami publikasikan. Kolom bertanda bintang (*) wajib diisi.

*

*

Anda Mungkin Suka

Layanan Pelanggan

Email: info@soccerpedia.store

Telepon: +6281211343481

 

Live Chat:
Online Senin-Minggu (08:00WIB – 17:00WIB)

Syarat dan Ketentuan

Mohon agar dapat dibaca secara TELITI terlebih dahulu pada halaman MENU: “SYARAT dan KETENTUAN“, sebelum memesan PRODUK kami. Dengan memesan PRODUK di SOCCERPEDIA.store, kami menganggap bahwa para PELANGGAN sudah setuju dengan SYARAT dan KETENTUAN yang berlaku.

Tentang Kami

SOCCERPEDIA.store merupakan platform ONLINE STORE untuk semua PRODUK berupa BARANG (Merchandise/ Souvenir) dan JASA, yang khusus kami dedikasikan bagi Klub Sepak Bola, Sekolah Sepak Bola (SSB), Liga, serta Kompetisi Sepak Bola pada level GRASSROOT dan AMATIR. Lebih dari itu SOCCERPEDIA.store juga sangat terbuka untuk siapa saja yang memiliki inovasikreativitas serta berkomitmen untuk ikut memajukan perkembangan Football Industry ditanah air, selama masih terkait dan berhubungan dengan dunia Sepak Bola (All Things About Soccer). Dengan business networking yang telah kami bangun dan miliki bersama SOCCERPEDIA.id selama ini, kami sangat yakin bahwa SINERGI-MUTUALISME yang diharapkan bersama bisa benar-benar kita wujudkan, maju terus Sepak Bola Indonesia! Tertarik untuk tumbuh dan berkembang bersama kami? Segera hubungi SOCCERPEDIA.store!

Chat via Whatsapp
Admin
⚫ Online
Halo, perkenalkan saya Admin
baru saja
Ada yang bisa saya bantu?
baru saja